Membangun Peradaban Melalui Pengembangan SDM Penyelenggara Kesejahteraan Sosial
Tahun 2025 menjadi saat yang tepat untuk refleksi bagi Persyarikatan Muhammadiyah yang merayakan usia ke-113. Angka yang signifikan bagi sebuah gerakan Islam yang tidak hanya fokus pada pembinaan umat, tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan peradaban. Sejak awal eksistensinya, Muhammadiyah telah menegaskan perannya sebagai organisasi yang melakukan pembaruan dengan menempatkan pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial sebagai dasar penting dakwah amar makruf nahi munkar.
Di tengah isu sosial yang semakin rumit—seperti kemiskinan multidimensi, kerentanan keluarga, disrupsi digital, dan ketidakadilan akses sosial—kita dihadapkan pada perlunya memperkuat Sumber Daya Manusia dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (SDM Kesos). Sebab, sebaik apapun program sosial yang dirancang, akan sulit terlaksana dengan baik tanpa adanya individu yang terlatih, berkompeten, dan memiliki komitmen terhadap pengabdian.
Di sinilah, semangat perayaan Milad ke-113 menemukan makna yang paling jelas: melakukan pembaruan terhadap mutu sumber daya manusia.
Muhammadiyah dan Tradisi Kesejahteraan Sosial
Sejak era K. H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah mengembangkan tradisi pelayanan sosial yang sangat kuat, seperti panti asuhan, rumah sakit, sekolah, penguatan ekonomi, serta aktivitas sosial yang berlandaskan masjid. Namun, tantangannya saat ini mengalami perubahan. Lembaga sosial kini memerlukan individu yang memiliki:
1. keahlian teknis (penilaian kasus, intervensi sosial, pengelolaan layanan),
2. keahlian etika (tanggung jawab, integritas, perlindungan terhadap kelompok yang rentan),
3. keahlian spiritual (niat untuk berbakti dan kesalehan sosial),
4. keahlian manajerial (perencanaan, pemantauan, dan inovasi sosial).
Tanpa pengembangan sumber daya manusia yang terencana, lembaga sosial akan tertinggal meskipun memiliki infrastruktur yang cukup besar.
Pengembangan SDM Penyelenggara Kesos: Jalan Baru untuk Milad ke-113
Sebagai bagian dari lingkungan akademik Muhammadiyah, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial—termasuk UMMAD—memiliki tugas penting untuk memperkuat kemampuan para pekerja sosial: PSM, Sakti Peksos, pengurus LKS, relawan, serta pengelola layanan sosial lainnya. Terdapat tiga agenda strategis yang sejalan dengan semangat peringatan Milad:
1. Peningkatan Profesionalisme SDM Kesos
Muhammadiyah perlu mendukung standar pelatihan yang berorientasi pada kompetensi bagi semua pengelola panti, panti untuk penyandang disabilitas, layanan bagi lansia, serta masjid-masjid besar. Profesionalisme tidak bertentangan dengan ketulusan—sebaliknya, hal ini malah memperkuat kontribusi yang diberikan.
2. Integrasi Layanan Sosial Melalui Masjid
Masjid bukan hanya sekadar tempat untuk beribadah, tetapi juga sebagai pusat kesejahteraan sosial. Model-model seperti Jogokariyan dan Al-Falah Sragen menunjukkan bahwa masjid dapat berfungsi sebagai:
• pusat ketahanan pangan,
• pusat pendidikan bagi anak dan remaja,
• pusat pemberdayaan ekonomi,
• pusat layanan umum yang berorientasi pada kemanusiaan.
Pengembangan SDM masjid perlu dirancang agar mampu melakukan penilaian sosial, manajemen zakat, infaq, dan sedekah, serta menciptakan program kesejahteraan yang berbasis data.
3. Kerja Sama Antara Kampus–Persyarikatan–Lembaga Sosial
Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial di Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki potensi besar: jaringan infrastruktur lembaga sosial yang luas. Sinergi ini harus diperkuat melalui program:
• pelatihan terencana,
• pendampingan,
• penyusunan standar operasional prosedur layanan,
• penelitian kebijakan sosial,
• pendidikan calon SDM Kesos dari kalangan pelajar Muhammadiyah.
Dengan demikian, SDM Kesos tidak hanya akan memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kedewasaan ideologis dan spiritual.
Milad 113: Saatnya Muhammadiyah Memimpin Gerakan SDM Kesos Nasional
Indonesia memerlukan ribuan profesional di bidang kesejahteraan sosial yang handal, cepat tanggap, dan memiliki integritas. Muhammadiyah memiliki kesempatan paling besar untuk menjadi lembaga terdepan dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kesejahteraan sosial secara nasional. Dengan jaringan yang mencakup lebih dari:
• 6000 sekolah,
• 170 universitas,
• lebih dari 400 panti sosial,
• ribuan masjid dan fasilitas kesehatan,
pengembangan sumber daya manusia bukanlah sekadar pilihan—melainkan sebuah kewajiban sejarah.
Penutup
Milad yang ke-113 bukanlah hanya sebuah perayaan usia, melainkan sebuah dorongan untuk meningkatkan dedikasi. Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial merupakan aspek krusial dari usaha Muhammadiyah dalam memajukan kehidupan, memberdayakan masyarakat, serta menyebarkan kebaikan. Semoga Muhammadiyah tetap menjadi pelopor dalam gerakan kemanusiaan yang progresif—dengan pengetahuan, keikhlasan, dan kapasitas manusia sebagai fokus utamanya.
Komentar
Posting Komentar